ANP 2017

Kamis, 21 September 2017 | 16:43:22

 

Asean Newspaper Printers
Shangri-La Hotel, Jakarta.
September 19th – 21st ; 2017

 

Asean Newspaper Printers dimulai hari ini, dan Jakarta menjadi tuan rumah dalam acara konfrensi Newspaper Printers se-ASEAN. Kompas Gramedia selaku partner dari ANP di Indonesia mengundang SMK Grafika Desa Putera untuk mengikuti seminar selama 3 hari tentang perkembangan Printing Industri di dunia, terutama di ASEAN. Diikuti oleh beberapa perusahaan besar seperti Fujifilm, FERAG, Kodak, AGFA, HP dan masih banyak lagi partner ANP yang memberikan materi selama seminar ini berlangsung. Sebagai members atau anggota dari ANP antara lain Gramedia Printing Group (Indonesia), Malay Mail (Malaysia), Singapore Press Holdings (Singapura), Thanh Nien (Vietnam), Best Colour, Co Ltd (Myanmar), Temprint (Indonesia), Temprina  Jawa Post Group (Indonesia) dan masih banyak lagi.

 

Mr. Mitshiro Imaizumi perwakilan dari Fujifilm memperkenalkan tren terbaru dalam membangun industri percetakan yang ramah lingkungan. Beliau mengatakan bahwa lingkungan di industri percetakan haruslah ramah lingkungan sehingga tercipta pabrik yang terlihat asri. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan teknologi terbaru yang ditawarkan oleh Fujifilm yaitu SUPERIA Fujifilm-Superia. Ada angin segar rasanya untuk industri percetakan yang belakangan terlihat kembang kempis. Dari penjelasan Mr. Mitshiro san, Fujifilm Superia ini menawarkan 5 penghematan, antara lain hemat material, hemat tempat, hemat energi, ramah lingkungan dan hemat air. Untuk lebih jelasnya bisa di klik di link yang sudah di-attach di atas ya.

 

Lanjut ke pembicara selanjutnya adalah Mr. Choi Won Seok dari Korea Chosun Daily Media (Percetakan Surat Kabar terbesar di Seoul, Korea Selatan). Mr. Choi Won Seok berbicara tentang penurunan peminat dalam membaca surat kabar. Namun beliau optimis bahwa dengan adanya teknologi yang semakin baru akan membuat industri surat kabar menjadi lebih baik. Selama 15 menit, Mr. Choi membagikan tentang teknologi terbaru yang dikeluarkan oleh Kodak yaitu mengubah AM Printing ke FM Printing (Staccato). Apa itu AM Printing dan FM Printing? AM Printing (Screening) adalah teknologi lama yang menggunakan jenis dot (titik titik raster) yang besar titiknya sama dengan bentuk dan jarak teratur masing-masing titik. AM Printing yang selama ini digunakan menghabiskan lebih banyak tinta karena bentuknya yang besar. Berbeda dengan FM Printing, bentuk raster yang bervariasi dengan jarak yang bervarisi pula membuat tinta yang diperlukan dalam proses cetak lebih sedikit.

 

Selanjutnya adalah presentasi dari Bapak Setiawan Y.S yaitu perwakilan dari Kompas Gramedia. Beliau berbicara tentang bagaimana menghadapi krisis yang dialami oleh Gramedia selama 6 tahun belakangan. Sebagai salah satu percetakan surat kabar besar di Indonesia, Gramedia berhadapan langsung dengan krisis ini. Dalam waktu 2 tahun jika diambil sampel secara acak dari 4 surat kabar di Indonesia, terjadi penurunan sampai dengan 30% jumlah oplag. Bapak Setiawan menyampaikan, “Ketika kita menghadapi krisis, ada 2 hal yang akan kita hadapi, yaitu Danger atau Bahaya dan Oppurtunity atau Kesempatan”. Dan sebagai “raksasa”, sudah pastilah Gramedia melihat pada kesempatan daripada melihat bahaya. Bagaimana cara Gramedia melihat kesempatan dalam krisis kali ini. Caranya adalah dengan mengambil kesempatan mencetak lebih banyak buku pelajaran. Selain menghadapi krisis dalam dunia percetakan, hal ini juga dapat membantu pendidikan mendapatkan buku-buku dengan kualitas yang baik. Hehe.

 

Lanjut dari Mr. Prabhu Natrajan dari Wan Ifra Wan-Ifra berbicara tentang Kualitas Warna Internasonal untuk Majalah dan Surat Kabar. Setelah Mr. Prabhu selanjutnya adalah giliran Mr. John Thye dari Fujifilm menyampaikan tentang arti pentingnya surat kabar. Selanjutnya adalah yang paling menarik buat saya, yaitu mencetak di atas kertas dengan tinta dan sesuatu yang tak terlihat oleh mata, yang dibawakan oleh Mr. Steve Packham dari DIC Autralia. Huhuhu dari judulnya aja udah asik kan. Yang tadinya audience udah mulai ngantuk dengan materi yang disampaikan (uuppss) jadi seger lagi. Jadi Mr. Packham berbagi dengan perbedaan warna dari suatu objek yang dihasilkan jika dilihat dengan mata yang berbeda. Dan bagian paling menarik adalah ketika audience diminta untuk melihat satu bulatan kecil putih diantara dua kotak dengan warna yang berbeda dalam slide, kemudian slide diganti menjadi berwarna putih semua. Jengjreng, seketika muncul bayangan dari dua kotak dengan warna yang berbeda di layar. Itu adalah efek dari warna putih yang diproyeksikan menjadi warna yang bisa ditangkap oleh warna, bahasa kerennya adalah visible color.

 

Sekarang adalah giliran dari AGFA Graphics yang diwakili oleh Mr. Chong Sai Chow. Materi yang dibawakan dengan judul “Looking Back To The Future”. Iyap, sebagai salah satu penghasil negative film yang terkenal, looking back to the future adalah salah satu kelebihan dari AGFA. Kita bisa melihat semua yang terjadi di masa lalu melalui media film yang dicetak. Beberapa contoh yang diambil adalah hasil foto rontgen, foto kenangan ketika liburan dan banyak lagi. AGFA yakin dengan teknologi terbaru yang AGFA tawarkan akan menjadikan indrustri percetakan menjadi lebih baik.

 

Selanjutnya adalah giliran Mr. Pedro Madrid dari Protect Media yang berbicara tentang media yang sekarang sedang marak yaitu digital media. Materinya cukup menarik hanya saja Mr. Madrid membawakannya cukup cepat dan Bahasa Inggrisnya british banged, hehehe. Selanjutnya yang juga buat saya menarik adalah presentasi dari Mr. Nick Price dari HP Pagewide Industrial. Tau donk kalian HP itu apa, perusahaan besar sebagai produsen printer dan notebook. Materi yang diberikan tentang teknologi terbaru yang akan diluncurkan oleh HP, yaitu printer yang bisa mencetak packaging. Kebayang donk kerennya kaya apa printer baru dari HP? Pokoknya ketje badai deh ya.

 

Sesi terakhir hari ini adalah dari Mr. Ignatius Adriyanta Wibawa dari Gramedia Surabaya. Beliau membagikan hampir sama dengan Bapak Setiawan dari Gramedia sebelumnya. Cara Gramedia bertahan di tengah krisis indrustri percetakan. Belajar dari film Flight of the Phoenix, Mr. Adriyanta ingin Gramedia selanjutnya akan seperti film tersebut.

 

Setelah selesai dari sesi terakhir ini dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke gedung Kompas Gramedia. Berkesempatan melihat Menara Kompas yang baru dan melihat langsung cara mencetak surat kabar Kompas. Menara Kompas yang tingginya sampai 29 lantai ini berada tepat di depan gedung Kompas Gramedia dan di dekat Bentara Budaya Jakarta. Kapan lagi punya kesempatan datang berkunjung ke Menara Kompas yakan, hehehe. Sesi terakhir ini ditutup dengan berkeliling di Kompas Gramedia.

 

Hari kedua Seminar APN, masih dari Ballroom C Sangri-La Hotel, Jakarta. Sesi pertama sebenarnya ada Tutorial on INCQC ISO 12647-3 oleh Mr. Prabhu Natrajan di ruangan yang berbeda dengan ruangan seminar. Lanjut pembicara pertama adalah Mr. Jean Pierre dari Sogemedia (Kodak Inkjet). Berbicara tentang isi surat kabar yang harus lebih menarik. Beliau mengatakan permasalahan bukan pada media cetak tetapi pada isi dari media cetak tersebut. Solusi yang ditawarkan adalah dengan memperbanyak konten terbaru dengan jumlah halaman yang lebih sedikit sehingga pembaca menjadi lebih tertarik. Sogmedia pun menggunakan Kodak Prosper 6000C press karena beberapa alasan, diantaranya adalah teknologi inkjet yang masih dilestarikan dan bisa dihubungkan langsung dengan Mandroland Foldline.

 

Selanjutnya adalah giliran Mr. Jhonny Tan dari Singapore Press Holdings. Berbicara tentang Miiligraph Bearing Analysis, cara mengganti bearing pada mesin cetak offset gulungan dengan baik dan meminimalis kemungkinan human error, sehingga menekan angka terjadinya kecelakaan kerja. Pembicara selanjutnya adalah Mr. Kyaw Thu dari Best Colour Co.Ltd. Membicarakan tentang Industri Percetakan di Myanmar. Selanjutnya adalah Mr. Nguyen Manh Huy dari Thahn Nien (Surat Kabar di Vietnam). Beliau berbagi tentang standar yang digunakan dalam pencetakan surat kabar Thahn Nien. Berbeda dengan penggunaan FM Screening yang digunakan pada percetakan surat kabar di Korea Selatan, Thahn Nien menggunakan AM Screening dan cara pengecekan AM Screening yang baik untuk pencetaan surat kabar.

 

Pembicara terakhir adalah dari KMI Ink, Mr. Hanje Cho. Beliau berbicara tentang tinta yang diproduksi oleh KMI Ink yang ramah lingkungan (Eco Friendly), baik untuk hasil cetak surat kabar dan menjadi supplier tinta untuk surat kabar terbesar di Jepang yaitu Yomiuri Newspaper.

 

Seminar diakhiri dengan tanya jawab dan feedback dari semua peserta seminar. Selain itu membahas tentang tuan rumah untuk ANP Confrence 2018 yang akan datang. Seminar dua hari yang sungguh memberikan banyak ilmu untuk dunia grafika terutama pendidikan grafika yang tidak boleh takut menghadapi dunia digital saat ini, karena media cetak tetap punya tempat di hati setiap orang. Bertemu banyak orang yang bergelut di dunia grafika, dari industri dan juga pendidikan grafika. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca.

 

Cheers ^^
Team INKDEPE