Selintas Kisah

Kamis, 11 Desember 2014 | 16:23:13

Selintas Kisah, Sekolah Grafika Desa Putera

smk grafika desa puteraPada saat situasi politik bangsa belum menentu, dalam kondisi perang kemerdekaan masih berkecamuk Perang Kemerdekaan, membawa akibat sosial seperti kemiskinan, kelaparan, dan tidak sedikit anak-anak yang menjadi yatim piatu. Ternyata masih ada perhatian kepada mereka yang terkena dampak perang itu. Untuk mengatasi hal itu masih ada orang-orang asing, para misionaris Belanda, yang peduli tehadap bangsa Indonesia. Mgr. Willekens, Vikaris Apositolik Batavia adalah salah satunya.

Untuk menampung anak-anak itu, pada tanggal 30 Juni 1947 diresmikan Desa Poetra. Sebagai tempat untuk menampung anak-anak korban perang, dan terpaksa harus hidup menggelandang. Untuk pengelolaan diserahkan kepada Kongregasi Budi Mulia dan Perhimpunan Vincentius. Sebagai penanggung jawab ialah Br. Corbinianus dan Br. Mattheus.

 

Sebagai sarana penunjang pendidikan anak asuh, dibangunlah secara bertahap sarana pendidikan. Pada tahun 1947 didirikan Sekolah Rakjat Desa Poetra, tidak hanya sebagai tempat belajar anak-anak Panti Asuhan, namun juga masyarakat sekitar. Selanjutnya pada tahun 1950, didirikan Sekolah Guru Bawah (SGB) Desa Putra oleh Br. Juvenalis. Dengan 15 orang murid, awal dari sekolah lanjutan di Desa Putera. Karena adanya perubahan sistem persekolahan yang di terapkan pemerintah, maka SGB terpaksa harus ditutup pada tahun 1960. sebagai gantinya adalah didirikan SMP Desa Putera tanpa kehilangan subsidi dari pemerintah.

Sebagai tambahan keterampilan anak-anak Panti Asuhan maka mulai diajarkan usaha penjilidan buku oleh Br. Basilides. Usaha ini terus di kembangkan dengan sumbangan beberapa mesin cetak kecil (handpress). Pada mulanya hanya 12 orang yang dilatih dalam bidang penjilidan dan percetakan tersebut. Melihat hasilnya, ada kemungkinan dan peluang untuk membuka sekolah percetakan yang lebih besar. Usaha untuk mendirikan sekolah grafika terus dilaksanakan dengan mendatangkan tenaga ahli. Pada tahun 1967 datang dari Belanda Br. Martin Dol. Kemudian pada bulan maret 1967, Br. Eulogos datang membawa mesin cetak.

Pada tahun 1968 ijin mendirikan sekolah grafika diperoleh dari pemerintah . Sekolah Teknik Grafika ( setingkat SMP ) pun dimulai tanpa dilengkapi mesin. Karena pengiriman mesin membutuhkan waktu cukup lama. Baru pada tanggal 22 Januari 1971, mesin-mesin itu digunakan. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 11 April 1972 sekolah grafika memperoleh ijin dan diresmikan menjadi nama sekolah Teknik Menengah Grafika Desa Putra dengan Br. J.B. Janssens sebagai Kepala Sekolah. Sekolah, ini pun terbuka untuk masyarakat umum, tidak hanya lingkungan anak-anak panti asuhan.

smk grafika dpPerkembangan jaman terus membawa perubahan dan pertumbuhan yang lebih baik. Penambahan dan pembangunan secara fisik baik gedung sekolah maupun sarana praktik terus dilakukan. Tahun 1985 nama STM Grafika Desa Putera berubah nama menjadi Sekolah Menengah Teknik Grafika Desa Putera. Sarana untuk belajar pun dibangun dengan bangunan yang lebih bagus, megah dan sesuai dengan perkembangan teknologi. Gedung baru diresmikan pada tanggal 23 Juli 1993 oleh Bapak Willy Laluyan, Direktur Pembinaan Press dan Centre ( TC). Dengan tujuan untuk pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat dalam bidang grafika yang tidak memperoleh pendidikan secara formal.

Sesuai kebijakan pemerintah dalam bindang pendidikan kejuruan, pada tahun 1997 berubah nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Grafika Desa Putera. Usaha keras untuk berbenah terus dilakukan dari tahun ke tahun. Penambahan sarana praktik di unit produksi dan sarana belajar di kelas terus dilakukan. Selama memimpin percetakan, Br. Martin Dol terus melakukan penambahan, sarana-sarana praktik yang modern, yang sesuai dengan perkembangan tehnologi. Hal itu dilakukan untuk tetap mempertahankan mutu yang telah di akui masyarakat.

Dalam akreditasi bulan September 2006, menghasilkn prestasi dan pengakuan dari pemerintah yang maksimal. Secara resmi pada bulan Desember 2006, predikat “ Terakreditasi A” diberikan oleh Badan Akreditasi Sekolah DKI Jakarta. Semakin mempekokoh peranya dalam pendidikan, prestasi pun terus diukir tidak hanya dalam prestasi belajar. Bidang kesiswaan pun juga memperoleh banyak penghargaan dalam bidang olah raga, seni dan budaya. Alumninya pun telah mencapai lebih dari 2000 orang, yang telah tersebar di berbagai perusahaan di tanah air. SMK Grafika Desa Putera secara berturut-turut dipimpin oleh (alm) Br. J.B. Janssens ; Br. S. A. Ginting; Br. Drs. Frans Sudjiwo; Bapak Mahuri B. Sc; Bapak Matheus Nalih A. Md Graf, S. Pd, Bapak Kardy Matheus S.Sn. saat ini dipimpin oleh Bapak. Drs. Mateus Sumadiyono, dengn 21 orang tenaga pengajar, 30 orang instruktur praktik dan 5 orang karyawan. Sedangkan jumlah siswa 313, dan 87 diantaranya adalah perempuan.

Dan kini sepanjang silinder mesin cetak itu masih berputar, angin segar masih berhembus di alam Desa Putera. SMK Grafika Desa Putera tetap setia untuk mencetak calon tenaga grafika yang professional dan kompeten.